Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Terserah, mau baca sooook ...

Blog EntryFeb 5, '11 4:36 AM
for everyone
Nggak ada alasan tertentu sih, pengen aja pindahan blog hehehe .... Tapi akun MP ini masih tetap aktif kok, demi alasan kemanusiaan (maksudnya pergaulan gitu lhuwokh hahahahaaa).

Meskipun masih baru dan belum diutak-utik, ini blog baru si Ibuk. Jangan kecewa kalo isinya ecek-ecek. Namanya juga blog ibuk-ibuk .

Blog EntryMar 7, '10 4:36 AM
for everyone
Minggu lalu, Sakya sepuluh bulan. Tambah lincah, tambah “aong”, bikin orang rumah sering keringetan!

Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya si gigi muncul juga. Dan sekali muncul ada ... ENAM. Yang bawah dua, nongol duluan. Eh, ternyata yang atas nyusul, empat biji. Dan dua gigi depannya jarang, bikin wajahnya tambah jenaka, hihiiiii .... Syukurlah kalau lagi “engking” nggak pernah gigit-gigit Ibuk, dan semoga seterusnya nggak.

Makan tetap rakus, bahkan yoghurt plain pun disantap tanpa mengerenyit. Padahal orang-orang dewasa pada keaseman. Engking juga tetap rakus, dan senang sekali minum air es, kalau airnya agak hangat malah disembur-sembur. Oiya, dia bisa minum pake sedotan sejak umur tujuh bulan, lupa dicatat di tulisan lalu-lalu. Awalnya sih gara-gara si Nini minum teh pake sedotan, lalu dia keukeuh pengen ngemut sedotan. Eh, taunya betulan diminum. Untung tehnya nggak panas dan nggak manis. Karena rakus itu, sekarang semua orang yang ketemu pasti bilang “Jadi gendut!”.

Setelah bisa duduk tegak dengan percaya diri dan merangkak dengan kecepatan tinggi, sekarang sudah bisa naik tangga sendiri. Jadi sama sekali nggak bisa ditinggal. Karena merangkaknya cepat, seringkali si Ibuk atau Bapak meleng sedikit, eh ... sudah ada di anak tangga kedua. Biasanya kalau sampai atas, hidungnya berkeringat dan teriak-teriak gembira.
Kemampuan lain yang baru muncul adalah menari-nari. Kalau kita nyanyi “Ningnang, ningnang, euuuuuu, nangningnang ningnang euuuuu” tangannya digerak-gerakkan seperti jaipongan. Tapi kata si Aki, itu mah gerakan manortor, hahaha .... Sepertinya bakat menari ini turunan dari si Bapak yang nggak bisa diem, sementara wajahnya yang lempeng saat nangningnangningnang euuuuuu itu turunan dari Ibuk, hihiiiiiii .... Sekarang juga, tiap pagi harus nyetel radio Rama, kalo sore nonton videoklip Parahyangan di TV-TV lokal.

Terus, sekarang kalau kita bilang “Halo? Sakya ada?” benda apa pun di dekatnya disambar dan ditempel ke telinga. Yang paling sering sih remote TV, meskipun ada HP di dekatnya. Kalau nggak ada apa-apa pun, pasti nempelin tangan di telinga, sambil bilang “Hooooo?”
Dan yang paling bodor adalah ekspresi wajah Pak Tile-garis miring-Ki Dausnya. Kalau kita bilang “Sun bunyi!” dia pasti niru “muahhh” tapi dengan cara gigit bibir atas dan bibir bawah, lalu mendecap “Cpppahhhh”. Seperti ini. Kacau kan? Anak siapa sih ... anak si Bapak pastinya :p

Rambutnya semakin gondrong—bukan ke bawah, tapi ke atas ... jadi Ibuk nggak mau kalo Sakya dicukur dulu, coba kita lihat sampai sepanjang apa tumbuh tegak lurus dengan permukaan kepalanya, wekekek ....

Oh iya, dia juga punya teman baru, seekor kambing betina jinak yang namanya Bagja. Si Bagja ini peliharaan orang bawah, deket pemancingan, dipelihara sejak bayi jadi jinak, dan tiap hari berkeliaran ke mana-mana, karena tahu jalan pulang. Nah, setelah beberapa kali pertemuan, jadi akrab deh mereka berdua. Pernah waktu Sakya diajak ke pasar sama si Nini, terus ketemu Bagja, eh ... pengen naikin Bagja! (Setelah si Ibuk pikir-pikir, arti nama mereka juga hampir sama. Sakya kan artinya kebahagiaan, Bagja artinya bahagia. Hihihiiiii)

Lalu, bagaimana kabar si Ibuk? Ibuk mah kitu weh ... tetap keren seperti biasa. Hihihihihihiiiiiiiiihhhhhhh :p
 
 

Blog EntryFeb 2, '10 10:49 PM
for everyone
Karena masih juga riweuh dengan kerjaan dan paciweuh dengan malas, jadi catatan tentang
Sakya baru sempat ditulis sekarang, waktu dia 9 bulan. Jadi, mungkin ada yang kelewat
atau lupa kapan waktu tepatnya. Ah, biarin aja, yang penting niat .

Mulai 6 bulan, Sakya mulai makan. Sengaja nggak dikasih makanan instan, tapi hasil
buatan si Ibuk. Soalnya, makanan bayi instan itu enak-enak (hihi … karena si Ibuk sering
makan bubur bayi instan), khawatir juga kalau dia nggak kenal rasa asli makanan. Dan ini
juga tantangan buat si Ibuk yang pemalas, hehehe …. Jadi, yang pertama dia makan itu
bubur tepung beras organik Gasol yang dicampur dengan macam-macam puree buah dan sayur. Katanya sih kalau awal-awal, harusnya nggak dicampur. Tapi karena si Nini dengan
bersemangat udah beli labu parang dan ubi kuning, jadi ya sudah, dijejelin juga. Cuma
tetap pakai aturan 4 hari, supaya ketauan dia alergi nggak.

Syukurlah sampai sekarang makannya tetap lahap. Malah cenderung rakus, dan nggak
pilih-pilih makanan. Sayang si Ibuk selalu gagal kalau bikin biskuit bayi, hihihiiii …. Yang pertama nyontek resep dari majalah bayi waralaba luar negeri, malah bulukan. Yang kedua nyontek resep yang beredar di blog-blog, terus nyicipin biskuit Maalik buatan si Antjheu, jadinya malah keras (tapi lumayan enak lah, peningkatan). Jadi Sakya masih makan biskuit beli jadi. Dan setelah si Ibuk ikut nyobain, ternyata yang paling nggak terlalu manis itu biskuit marie Promina (untuk 8 bulan ke atas). Terus pernah juga beli biskuit bayi produk Malaysia, eh … rasanya kaya’ opak hahaha …. Dan karena rakus, sekarang pipinya gembil, perutnya buncit, paha dan betisnya montok.

Tuh kan, karena nggak dicatat, jadi lupa kapan Sakya mulai lancar merangkak. Tapi sekarang merangkaknya jauh dan ngebut … sampai sempat berkunjung ke UGD, gara-gara nggak ketangkep pas jatuh dari tempat tidur dan muntah (huh!). Alhamdulillah nggak kenapa-kenapa, cuma mungkin dia trauma pas diambil darah dan dirontgen, karena lama ditahan nggak boleh gerak-gerak. Peristiwa itu terjadi hari Jumat dua minggu yang lalu, dan sialnya si Bapak lagi di Pangalengan dan teleponnya nggak diangkat-angkat. Grrrrrrr! Selain lancar merangkak, sekarang dia juga sudah ahli mundur, duduk, dan mulai merambat terus berdiri.

Setelah kata pertamanya “Bapak”, sekarang sudah mulai bisa panggil Ibuk, tapi manggilnya “Buuu … ahhh. Buuuuuuuuahhhh. Brrrrruuuu!” Lalu bisa merangkai kata “Bapakbauuu”
(Hihihiiii … eh emang betulan, beberapa kali kedengeran begitu). Manggil si Aki pun sudah mulai “Keh!”, tapi manggil si Nini belum bisa. Sakya juga bisa bilang “dadah dadah dadah” sambil ngegerakin tangan. Dan kalau manggil orang lain, biasanya dia bilang “Heh!” (Preman banget yak)

Sekarang dia suka banget sama kucing, kalau ada kucing langsung “petik jari”. Bahkan si Mamak Robin pun dipanggilnya dengan “petik jari”, hihiii …. (Apa menurut Sakya si Mamak
Robin itu kucing garong? :D) Selain pok ame-ame dan cilukba, Sakya juga suka bersenandung, dan sering ajrut-ajrutan kalau denger nyanyian. Sekarang tidurnya sudah teratur dan mulai lama, nggak sebentar-sebentar nangis minta nenen. Biasanya jam 8 mulai teler, jadi syukurlah si Ibuk bisa kerja setiap malam. Tapi bangunnya juga pagi. Biasanya dia bangun subuh karena BAB, lalu seringnya nggak mau tidur lagi. Kadang-kadang si Ibuk masih ngantuk, jadi Sakya diantar ke atas supaya main sama si Nini dan si Aki, sementara Ibuk tidur lagi hihiiii. Kadang-kadang tidurnya gelisah, hobi nendangin si Bapak, dan seringkali muter seperti kincir (kata si Bapak mah “ngolecer”).

Sakya senang diajak ke warung atau ke toko, waktu di Togamas juga jerit-jerit kegirangan sendiri di tengah toko karena liat kipas angin dan banner, sampai diliatin orang-orang. Dan yang sekarang ketahuan adalah … dia suka sekali naik kendaraan umum. Kalau di mobil si Aki sih sering bosan, akhirnya tidur. Kalau di angkot, satu per satu penumpang diperhatikan dan orang-orang yang duduk di sebelah kami dicolek-colek dan dipanggil, “Heh!”. Terus kalau diajak ngobrol, dia senyum-senyum, kadang-kadang sampai jerit-jerit juga.

Sakya juga pernah ngambek, gara-gara dimarahin sama Ibuk. Waktu itu dia nggak mau diem
di bak mandinya, hampir jatuh. Terus di stroller juga gerak-gerak terus, nggak mau
dipasangin sabuk pengaman. Jadi, si Ibuk marahin Sakya karena itu kan bahaya. Marahinnya nggak keras kok, cuma dibilangin “Sakya kalau di bak mandi dan di stroller jangan nakal, nanti jatuh!” Eh … taunya nangis sesenggukan, lalu dibawa si Nini jalan-jalan ke pasar, sampai pasar juga masih sesenggukan sakit hati, hihihiiii …. Pernah juga waktu si Bapak pulang, maunya nempel terus, kalau si Bapak keluar ruangan langsung nangis. Dikit-dikit nangis dan pengen ke Bapak. Iya deh, segitunya kangen sama Bapak, jadi si Ibuk agak dicuekin waktu itu, huh.

Lalu si Ibuk sendiri bagaimana? Si Ibuk sehat, paling-paling sakit kepala atau pilek (Jadi ibuk-ibuk itu ternyata nggak boleh sakit! :D) Nggak terlalu kurang tidur lagi, meskipun kadang-kadang kalau sedang kerja suka begadang juga karena tanggung, bisa karena kerjaannya lagi seru atau karena kepepet deadline hehehe ….  Si Ibuk belum bisa pakai celana jins sebelum hamilnya lagi, tapi syukurlah baju-baju atasan yang sempat kekecilan sekarang sudah muat lagi dan berhasil pakai satu celana sebelum hamil yang bukan jins. Lipatan perut sudah menghilang satu (haha … bangga), meskipun lengan kekar karena latihan beban tiap hari (dan si bebannya nggak mau diem) sehingga ganti galon air minum pun sekarang terasa sebagai pekerjaan yang ringan, hihihihiiiiii ….


Blog EntryDec 1, '09 3:00 AM
for everyone
Kemarin malam ada berita mengejutkan. SMS dari Vivi yang bilang Pak Djoni N. Dawanas, dosen astronomi, meninggal jam 19.30 di RS Tubagus Ismail.

Padahal, baru temu alumni astronomi di Bosscha kemarin, kami bertemu Pak Djoni, kelihatan segar-bugar (Entah juga ya, mungkin beliau sedang sakit tapi nggak terlihat dari luar saja).

Pak Djoni ini adalah dosen mata kuliah Astrofisika, mata kuliah dasar di astronomi. Beliau ini salah seorang dosen yang jagoan mengajar, kami para mahasiswanya bisa benar-benar mengerti konsep dasarnya, tidak sekadar hafal rumus. Dosen pintar memang banyak, tapi dosen yang benar-benar ahli mengajar bisa dihitung dengan jari.

Kepergian beliau membawa kami kembali mengenang masa-masa kuliah Astrofisika dulu, terutama saya dan—yah, dia lagi-dia lagi, memang—si Nata Pehul. Jadi, sebelas tahun yang lalu itu, kami adalah dua orang yang tersisa dari seluruh peserta mata kuliah itu, yang tidak mendapatkan kelompok untuk presentasi. Terpaksa kami berpasangan. Yang satu pemalas, yang satu lebih pemalas lagi (tebak mana yang lebih pemalas, yang jelas tulisan tangan saya lebih bagus daripada tulisan si Nata, hahahahaaaa).

Kelompok-kelompok lain hebat-hebat euy ... mereka mempersiapkan presentasi dan topiknya dengan baik. Pilihan topiknya sederhana, tapi pembahasannya lumayan mendalam. Perangkat presentasinya (dulu masih musim OHP) dibikin serius. Sementara kami, si kelompok pemalas, sampai H-1 masih kebingungan memilih topik apa.

Akhirnya, kami putuskan memilih topik tentang interferometer. Pilihan yang nekad, sebenarnya, karena kami sama-sama nggak menguasai instrumen ini, ditambah lagi konsep-konsep fisikanya. Tapi mau gimana lagi, kepepet gitu bok.

Jadi, H-1 sebelum presentasi dimulai, saya dan si Nata Pehul membagi tugas—saya membuat transparansi (karena tulisan saya lebih bagus, sialan), dan dia ... sholat tahajud. Berdoa dengan khusuk agar kami nggak kebagian presentasi pertama. Nata gitu lhuwokh, sholat tahajud. Tapi yah, dulu memang dia masih salihah, seperti Bu Dedeh guru ngaji di dekat rumah saya, hihihiii ....

Dan ternyata, mungkin karena si Nata masih salihah, doanya makbul. Saat pengundian giliran presentasi dengan cara mengambil batang korek api, kami nggak dapat giliran presentasi pertama. Kedua pun nggak. Eh ... mungkin si Nata benar-benar khusuk berdoa. Atau mungkin dia teraniaya, entah. Jadilah kami mendapat giliran terakhir. Itu pun Pak Djoni senyum-senyum terus mendengar presentasi kami, mungkin beliau maklum kalau kami sama-sama dodol.

Tapi, meskipun begitu, saya lulus kuliah Astrofisika 1 dengan nilai cukup memuaskan, B (Astrofisika 2 dapet apa ya ... lupa. Tapi karena peserta kuliah hanya sedikit dan dosennya ahli mengajar, jadi nggak sesulit kuliah-kuliah di jurusan Fisika).

Saya lupa si Nata dapat nilai apa. Tapi, ada suatu prestasinya yang gemilang, yang masih dikenang oleh para peserta kuliah Astrofisika saat itu (Mungkin Pak Djoni pun masih ingat). Karena kami ini angkatan yang lumayan pasif dalam bidang akademis (tapi tidak di bidang non-akademis haha), waktu disuruh bertanya, nggak ada yang mau bertanya. Karena sepi, si Nata memberanikan diri mengacungkan tangan.

Pertanyaannya, “Pak, kalau massa bumi itu dihitung dengan isi-isinya? Dengan manusia, binatang, bangunan, dan lain-lain ....”

Bahkan Pak Djoni pun tersenyum geli, tapi mungkin beliau nggak tega tertawa, karena sudah bagus ada yang mau bertanya, meskipun pertanyaannya naif seperti itu. Hihihihiii ....



Dan tadi siang, meskipun nggak sampai ke makam, saya dan Sakya mengantar Pak Djoni ke peristirahatan terakhirnya. Selamat jalan Pak, terima kasih banyak karena telah “membetulkan” otak kami, dan semoga mendapatkan tempat yang lapang di sana.


Blog EntryNov 5, '09 12:13 AM
for everyone
Harusnya sih tulisan ini diposting dulu-dulu, tapi baru sempat dan ingat lagi sekarang, meskipun sejak dulu memang niat ditulis hehe ….

Katanya, nama adalah doa. Saya juga percaya begitu, meskipun nama saya sendiri, apa ya doanya? (Siapa ya yang pernah bilang, kalau Masniari itu Emas-nya si Hari—Hari itu si Papap—tapi saya kok lebih suka pendapat satu lagi, kalau Masniari itu “hari-hari keemasan”, hahahaaa)

Waktu hamil dan sudah tahu lewat USG kalau si janin laki-laki, sudah terpikir juga untuk nyari nama. Tapi karena masih malas (mandi aja malas), nyarinya belum serius. Nah, ceritanya, sebagai fans lagu anak-anak sepanjang masa, saya pernah nulis di plurk “Si Lumba-Lumba! Bermain bola! Si Lumba-Lumba! Makan dulu!” (Ehem, saya masih ingat gaya Bondan Prakoso pas nyanyi lagu itu sih, hihiii) Eh, sama si eM teman SMA saya, si janin akhirnya dipanggil si Lumba-Lumba. Kebetulan pulak, sampai hamil bulan kedelapan saya masih rajin berenang. Kalau diajak berenang, si janin suka gerak-gerak pelan, seperti yang senang. Jadilah julukan si Lumba-Lumba. Dan saya jadi Maklum alias Emak Lumba-Lumba, dan Bapak Dindin jadi Paklum alias Bapak Lumba-Lumba.

Sejak dulu, saya berniat nggak ngasih nama berbahasa Arab. Bukan apa-apa, cuma bosan, banyak sekali anak-anak zaman sekarang yang namanya berbahasa Arab. Bagus-bagus sih, tapi coba kita hitung berapa anak yang namanya Daffa, Raihan, Salsabila, dan lain-lain. Legian, menurut saya, meskipun nama adalah doa, tapi doa itu kan universal toh? Saya juga nggak berniat ngasih nama bule, soalnya kasihan, nanti wajahnya eksotis khas Indonesia tapi namanya bule, terus kalau sekolah di kampung, nanti nama keren itu akan berubah, ef jadi ep, ve jadi pe, ex jadi ek, dan seterusnya, hahaha ….  Syarat lainnya adalah namanya nggak dari huruf A. Nanti absennya selalu di awal-awal, seperti teman saya si Agustine Suparman yang ganti akte kelahiran pas SMP jadi Tine Agustine Suparman, supaya nggak absen nomor satu lagi (Dasar euweuh gawe).

Nah, sebelum si Lumba-Lumba lahir, saya sebetulnya sudah punya usulan nama. Namanya Indonesia banget. Tapi sayang Paklum nggak setuju, karena terlalu lugas, hehe ….  Lalu, Paklum usul, kalau pakai nama kakeknya bagaimana? Saya sih setuju, tapi pas dicek di buku arti nama anak, ternyata artinya “landak”, hihiii …. (Lalu kata Paklum, “Pantes si Aki rancung,” hahahaaaa) Ya sudah, akhirnya usulan nama tenggelam lagi dan kami kembali bingung, mau dikasih nama siapa ya si Lumba-Lumba ini.

Karena diperkirakan lahir pertengahan Mei, jadi saya dan Paklum santai-santai saja. Eh, ternyata pas tanggal 1 Mei lahir, kami belum punya nama juga. Si Emak sempat ngomel-ngomel, mau dipanggil siapa si bayi? Akhirnya, si Emak ngasih panggilan sementara: si Jalu. Kata Emak, bukan Jalu yang artinya jantan lawan kata betina, tapi Jalu dari bahasa Banten yang artinya “jagoan”.

Hampir seminggu berlalu, nama belum juga ketemu. Akhirnya, malah Decky Ow-Ow temannya Paklum yang nyuruh buru-buru ngasih nama. Memang betul juga, kasihan si Jalu belum punya nama dan akte kelahiran harus cepat-cepat dibuat. Jadilah dua hari semalam saya dan Paklum mencari, berembuk, dan berdebat, siapa namanyaaaa?

Akhirnya, dari buku nama-nama bayi, saya dapat satu nama Sanksekerta, “Sakya”, yang artinya “kebahagiaan”. Mirip-mirip juga dengan usulan nama kakeknya Paklum, Salya (yang artinya landak tea hehe). Tapi, tolong diingat, pelafalan Sakya-nya bukan “Sakiya”, tapi dari huruf “k”, langsung disambung huruf “y”, soalnya kalau dibaca “Sakiya”, nanti dikira nama anak perempuan, Zakia, yang suka dinyanyiin Ahmad Albar.

Paklum tadinya usul “Afhlah”, yang artinya “yang beruntung”. Tapi akhirnya kami sepakat nama depannya Sakya. Lalu nama belakangnya siapa? Paklum usul “Lail” yang artinya malam, soalnya si bayi lahir tengah malam. Bahasa Arab sih, tapi nggak masalah, karena jarang dipakai (paling yang sering Laila atau Laily). Meskipun beberapa waktu lalu, Paklum agak menyesal juga, karena baru sadar, kenapa nggak pake nama “Wengi” ya? Jadi Sakya Wengi, lebih unik lagi.

Tadinya, Paklum agak enggan merelakan nama belakangnya dipakai si bayi, soalnya kata doi, itu bukan marga. Tapi saya yakinkan, supaya gampang bikin paspor, hehe. Akhirnya, jadilah nama si bayi “Sakya Lail Wahidin”. Yang kira-kira, kalau dirangkai artinya, jadi “Kebahagiaan yang datang pada malam hari, anak Pak Wahidin” hihihihiiii ….

Saya kira nama Sakya jarang dipakai, dan saya juga berharap semoga cuma dia di sekolahnya yang bernama Sakya nanti, karena teman-temannya kebanyakan bernama Arab. Eh, ternyata sekitar sebulan kemudian, si Achy teman SMP saya ngirim SMS, katanya keponakannya yang baru lahir juga dikasih nama Sakya, tapi lengkapnya Sakya Al-Ayyubi, lalu dia nuduh saya dan sepupunya beli buku yang sama, hahaha …. Tapi sepertinya bukunya beda, karena menurut si Achy, Sakya yang di buku sepupunya itu dari bahasa Kawi yang artinya terang. Tapi nggak apa-apa. Artinya juga bagus kan, terang. (Yah, nanti janjian aja mau masukin ke sekolah mana, biar nanti di sekolah tetap cuma ada satu Sakya, hihihii)

Eh, ternyata doa kami terkabul dengan cepat. Karena, kami terpaksa seringkali harus “berbahagia pada malam hari”, karena Sakya hobi begadang, hahaha …. Biasanya, kalau Sakya nggak mau tidur, Paklum suka negur, “Heh, Lail! Tidur!” Yah, salah sendiri ngasih nama Lail, hahahaaaa ….


Hari ini Sakya enam bulan (sebetulnya nanti sih, jam 23.55 hehehe). Jadi enam bulan lalu, jam segini saya masih terkapar dengan infus di tangan dan oksigen, mulesnya baru berasa dikit.

Sebetulnya pengen juga tiap bulan update perkembangan Sakya, seperti ibuk-ibuk lain, tapi ya gimana yaaaa ... pekerja freelance kan nggak dapet cuti kaya' pegawai kantoran, dan kebetulan kerjaan nggak pernah berhenti (alhamdulillah, pohon uang goyang terus, hahaha).

Jadi, agak-agak lupa juga perkembangan bulan per bulannya gimana. Yang jelas, sejak umur satu hari, Sakya sudah sadar kamera (hahaha ... seperti itu yang paling penting sajaaa). Umur beberapa minggu bisa teriak "engkiiiing!" kalau mau nenen, sampai sekarang (kami berasumsi kalau engking itu = drinking, anak penerjemah gitu lhuwokh, hahaha)

Selama tiga bulan pertama, seperti ibuk-ibuk pada umumnya, saya sempat baby blues juga, meskipun taraf ringan. Ya gitu deeeeh ... suka nangis-nangis bombay. Apalagi kalau Sakya lagi ngadat. Mana kerjaan masih numpuk. Nggak ada yang bantuin ngurus, PRT di rumah kan cuma setrika & ngepel, cuma ada Emak dan ibu mertua (dan si Emak juga ngajar, ibu mertua di rumahnya sendiri). Paklum masih grogi, meskipun dia berusia matang tapi ini pengalaman pertama (deuh ... usia mataaang!). Terus, saya yang biasa nggak betah di rumah, terpaksa 24 jam di rumah. Betek laaah.

Keuntungannya masih numpang di rumah orangtua/mertua, memang ada yang bantu-bantu jagain bayi. Tapi, kerugiannya, kalau metode asuh kita dianggap salah sama orangtua/mertua, bisa perang tiap hari tuh. Saya sih masih lebih beruntung karena tinggal sama orangtua sendiri, karena kalau si Emak masih bisa dibantah, hahaha ... (kalo ngebantah mertua, rasanya sungkaaaaaan banget)

Baru pas Sakya umur empat bulan, saya mulai agak relaks dan nemu ritme yang pas sama dia. Ritme segala macam ya, mulai dari kegiatan dia sehari-hari, kegiatan saya sehari-hari, dan kerjaan. Umur segitu juga mulai ngerti kalau diajak jalan-jalan, hehehe ....

Soal ASI eksklusif, saya usahakan sekuat tenaga sih, tapi sayang pas puasa kemarin, saya demam tinggi plus merah-merah di kulit. Kata dokter sih infeksi virus, tapi nggak jelas penyakitnya apa. Baru pas browsing-browsing, ciri-cirinya mirip flu Singapura. Eh, ternyata ASI juga berkurang banget. Sampai dibela-belain mahal-mahal ke klinik laktasi, yah, yang penting Sakya bisa dapet ASI lagi. Satu setengah bulan Sakya kepaksa didopping sufor meskipun cuma dikit, awalnya 3 x 60 ml sehari, sampai akhirnya nggak dikasih lagi (padahal si dokter nyuruh 8 x 60 ml sehari, tapi saya juga konsultasi sama CCRNC, sesama ex-tapol Cinambo, yang nyaranin "Susuin tiap jam". Ternyata lebih manjur si CCRNC, hahaha).

Perjuangan ASI ini memang berat, apalagi kalau nggak didukung kanan-kiri. Saya suka betek karena si Emak dan ibu mertua sering nanya, "Memang ada ASI-nya?" karena Sakya kurus melulu dan dia sering marah-marah kalau lagi nenen, dulu. Apalagi para nenek itu suka nggak tegaan kalau dengar cucu pertama mereka nangis keras-keras, langsung pengennya buru-buru bikin sufor. Yah, terpaksa ada pertumpahan air mata dalam hal ini (untung nggak pertumpahan darah hehe).

Soalnya, tetangga kiri-kanan nggak pada ASI-Eksklusif, dan bayi-bayi mereka sudah dikasih makan sejak empat bulan. Si Emak sampai beranggapan saya ini percaya textbook banget, tapi saya kan ibuk-ibuk keras kepala, hahaha .... Awalnya Paklum juga bukan breastfeeding father sejati, apalagi teman-teman sepergaulannya sesama bapak-bapak bayi, suka nyaranin "Kasih sufor ini aja, sufor ini aja." Tapi setelah diskusi dan disuruh baca-baca majalah, buku, browsing, dan lain-lain, akhirnya dia mendukung penuh (meskipun kadang-kadang, kalau lihat saya capek banget, suka bilang "Kasih minum aja, gimana?" hehe).

Kalau perkembangan fisik, meskipun kuyus, Sakya tuh lincah banget. Belum empat bulan bisa tengkurep sendiri, empat bulan bisa ngangkat kepala, lima bulan bisa "gulipak-gulinong" (bolak-balik), dan lima setengah bulan bisa ngesot. Jadi, seprai tempat tidur kami dan tempat tidur si Emak nggak pernah beres ... karena ada bayi ngesot, yang gerakannya cepet banget. Syukurlah sampai saat ini belum pernah jatuh (oh, kalau bisa jangan pernah!).

Dan kalau dulu agak-agak waterproof seperti si Paklum, sekarang nggak doooong, horeeee! Sekarang kalau mandi, pas disabunin suka tendang-tendang sambil teriak-teriak kegirangan, dan kalau sudah masuk jolang pink andalan, mandi sambil ciprat-ciprat air dan nonton tivi. Gaya banget dah.

Sakya juga senang diajak nyanyi. Dan harus live show. Nggak bisa pakai MP3 player atau semacam itu lah. Jadi, kami serumah sering serak gara-gara nggak boleh diem (kalo diem dia nangis). Lagu favoritnya Kukuruyuk dan Matahari Terbenam, dan sekarang senang sekali Dua Mata Saya sambil ditunjuk-tunjuk bagian yang dinyanyiin.

Sekarang, selain ngesot, dia sudah bisa bilang "Bapa! Bapa! Bapapapapa ..." Bikin iri, karena belum bisa bilang "Ibuk" (dan Paklum bangga banget dooong ... sebal). Juga senang sekali main ludah, sembur-sembur terus dengan tampang jail.

Yah, begitulah catatan enam bulan Sakya. Semoga bulan-bulan ke depan sih bisa tiap bulan laporannya, dan saya terus melanjutkan semester berikutnya di sekolah ibuk-ibuk yang berlangsung seumur hidup ini.

Dan mengutip kata-kata si Nata Pehul, teman astro saya, yang dipakai sebagai kalimat mutiara si Bona, teman astro juga, "Semester Baru Jangan Sendu". Tapi saya mau sendu yang senang duit ah. Hihii ....

Setelah kelahiran Sakya, disusul kelahiran Sabriel, lalu ada dua lagi yang lahir: Burning Sea dan Anne of Avonlea.

Burning Sea ini adalah novel roman karya John Shors, settingnya Perang Dunia kedua, dengan kisah utamanya berupa cerita cinta antara seorang perawat Amerika dengan seorang serdadu Jepang. Terjemahan ini adalah terjemahan "paling terkutuk"!


Kenapa begitu? Soalnya, pas nerjemahin, sempat hilang dua bab dulu. Dua bab gitu lhuwokh ... kalo cuma dua alinea atau dua halaman sih masih mending. Lalu, setelah dikirim, baru sadar, kalo satu bab hilang lagi. Geloooooo .... Nggak ada back up-nya lagi. (Mungkin lagi rieut juga ya pas ngerjainnya, lagi hamil Sakya sekitar 4 bulan, lalu si Papap masuk rumah sakit karena stroke waktu itu)

Berikutnya adalah Anne of Avonlea, terusannya Anne of Green Gables. Masih tetap jenaka sekaligus mengharukan seperti biasa, hihihiiii .... L.M. Montgomery mah jaminan mutu daaaah! :D



Karya Garth Nix
Penerbit Atria

Siapa yang Akan Menjaga Makhluk-Makhluk Hidup
Saat Makhluk-Makhluk Kematian Bangkit dari Alam Kubur?

Sabriel adalah putri seorang Abhorsen. Sejak kecil, dia tinggal di luar Tembok Kerajaan Lampau—jauh sekali dari kekuatan Sihir Bebas yang tidak dapat dikendalikan, dan jauh dari Makhluk-Makhluk Kematian yang bangkit dari kubur.

Namun, saat ayahnya menghilang, Sabriel dipanggil kembali menuju Kerajaan Lampau—kampung halamannya yang penuh mara bahaya—untuk meneruskan tugas-tugas ayahnya. Dia meninggalkan sekolah yang sudah dia anggap sebagai rumahnya dan menapaki petualangan mengerikan dengan bahaya-bahaya supranatural, ditemani dan dibantu oleh sosok-sosok yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Di sana, dia melawan suatu kekuatan jahat yang mengancam lebih daripada sekadar nyawanya, dan mulai rela menjalani garis hidupnya yang tersembunyi sebagai seorang Abhorsen—sang penakluk Makhluk-Makhluk Kematian.



Mari mari yuk pada beli terjemahan Tante M ... Seru lho bukunya, bikin penasaran pengen cepet-cepet baca sampe buku ketiga heheheee ....

Blog EntryMay 6, '09 10:34 AM
for everyone
Akhirnya, si Lumba-Lumba yang ditunggu datang juga. Terlalu cepat dua minggu dari perkiraan sih, meskipun kata dokter, sejak usia kandungan 36 minggu juga dia sudah cukup umur buat lahir.

Kamis malam, tanggal 30 April, bagian atas perut saya kok sakit ya. Sempat berkeluh kesah sama si Aq, tapi kami sama-sama berpikir, itu sih masuk angin biasa. Dan besernya semakin heboh, sampai akhirnya terakhir mau tidur, saya nggak kuat nahan pipis sedikit, dan memutuskan untuk memakai pembalut.

Ternyata eh ternyata, besok paginya, saya bangun dengan perasaan aneh, karena pembalutnya kok basah. Waktu diperiksa, ternyata sudah keluar lendir dengan sedikit darah. Si Aq langsung nyuruh saya siap-siap berangkat. Tanpa mandi (yah, namanya juga bapak-bapak waterproof, hihiii). Tapi, waktu laporan sama si Emak, saya disuruh mandi, BAB, dan segala macam dulu, karena si Emak lebih pengalaman, pasti nggak akan brojol cepat-cepat (Tapi si Aq tetap nggak mandi. Sialan).

Jam tujuh pagi sudah sampai di Hermina (karena cuma 10 menit dari rumah), lalu saya disuruh naik kursi roda. Padahal perasaan masih bisa jalan deh, tapi ternyata enak juga nggak perlu jalan kaki, hehehe ....

Sampai di Ruang Bersalin, perut saya langsung dipasangi monitor untuk menghitung detak jantung bayi dan memeriksa kadar mulas. Waktu itu sih belum mulas-mulas. Tapi, detak jantung janinnya kok sempat turun sampai 60-an. Padahal normalnya di atas 100. Jadi saya disuruh makan dulu.

Agak siang, akhirnya Dr. Anita datang, dan sekali lagi perut saya dipasangi alat itu. Kali ini juga, detak jantung si Lumba-Lumba sempat turun sampai 60-an, dan gerakannya jarang. Kata Dr. Anita, kalau begini terus, kemungkinan besar harus caesar. Aduuuh ... saya ogah, karena mahal, hihihiiiii .... Akhirnya diputuskan kalau saya harus diinfus cairan (bukan obat) dan dikasih oksigen murni, supaya detak jantung si Lumba-Lumba bagus lagi.

Saat itu juga, saya mengalami kejutan pertama. Periksa dalam, booook .... Selama jadi pasien Dr. Anita, saya belum pernah diperiksa dalam. Pernah sekali sih, waktu periksa kista, itu pun nggak dalem-dalem dicoloknya, oleh dokter pengganti Dr. Anita. Karena saya tegang, Dr. Anita sempat betek juga, karena tangannya kejepit dengan kuat, hihiii .... Dan kembali keluar ancaman, kalau saya nggak bisa kooperatif juga, ya memang sebaiknya dicaesar saja. Tapi waktu itu sempat ketahuan kalau sudah bukaan satu. Dan saya disuruh puasa, untuk siap-siap operasi caesar (Untung tadi sarapan bihunnya licin tandas, hihiii).

Sekitar jam tiga, saya kembali diperiksa. Syukurlah kali ini, yang kebagian jaga bidan yang baik sekali, dan setelah berbekal pengalaman dicolok-colok, saat itu saya sudah siap mental, meskipun si Aq yang jadi korban dijambak-jambak. Ternyata sudah bukaan tiga. Detak jantung si Lumba-Lumba juga bagus, tapi dia kok malas bergerak ya. Saat itu, sudah mulai kerasa mulas sedikit.

Sekitar jam setengah enam, kembali perut saya dipasangi alat, dan kembali (doh) dicolok-colok. Meskipun sudah berpengalaman, tapi kali ini kembali menyebalkan, karena ternyata sudah bukaan enam menuju tujuh. Tapi kok belum mulas-mulas amat ya, masih bisa ditahan dengan mempraktikkan latihan pernapasan (yoga-nya ternyata bermanfaat kok, hihihiiii). Dr. Anita kembali datang, dan saya disuruh buka puasa, karena nggak perlu caesar. Cuma, melihat mulas-mulas saya masih ringan di bukaan yang sebegitu, akhirnya diputuskan kalau saya diinduksi.

Gerakan si Lumba-Lumba juga nggak heboh, padahal biasanya dia heboh megal-megol ke sana kemari. Mungkin dia demam panggung, hihihiii .... Atau mungkin pada saat-saat menegangkan, dia memutuskan untuk kebluk (seperti emak dan bapaknya). Sampai dirangsang dengan bel berbunyi "TOOOOOT" keras, dia cuma megol sedikit, lalu diam lagi, hihihiiii ....

Jam demi jam berlalu, si Aq bolak-balik keluar untuk merokok, jadi yang jaga gantian, kadang-kadang si Emak atau ibu mertua. Sekitar jam delapan, mulailah mulas yang nyaris nggak nahaaaaan. Saat itu si Emak pulang, karena si Papap nggak ada yang jaga. Jadi, yang menunggu hanya si Aq dan ibu mertua.

Sekitar sebelas malam, si Emak datang lagi, karena nelepon si Aq dan dilapori kalau saya
sudah bukaan sembilan menuju sepuluh. Waw ... saat itu mulasnya uedaaan! Karena si Emak dan ibu mertua saya bilang "Kalau sakit jangan ngeluh, istighfar atau dzikir aja!", saya menurut. Tapi pas mulasnya heboh sekali, tanpa sadar saya teriak keras banget "ASTAGHFIRULLAH!" (dan si Aq langsung bisik-bisik, ya ampun Dek, keras amat teriaknya, sambil ngetawain. Sialan!)

Karena memang kurang tidur dan lelah, jadi di antara mulas itu saya sempat ngalenyap---tertidur sejenak tanpa sadar. Dan mengigau segala, hihiii .... Dalam bayangan, saya sedang berkata, "Meskipun air ketubannya ...." lalu tanpa sadar, saya bilang begitu, dan si Aq langsung heboh nyari air minum. Dan kalau episode mulasnya menghilang, saya seringkali tertidur. Yah, namanya juga Geng Kebluk hehe ....

Saat itu juga saya diajari mengedan oleh bidan (lho kok berima?), tapi karena sudah mulas sekali, nggak sempat minta gaya macam-macam. Setelah beberapa kali mengedan, yang keluar kok malah anak tiri, hihihiiii (Lewat belakang gitu lhuwokh ... tapi kata ibu-ibu sepergaulan, sekarang memang gayanya begitu, jadi nggak dikasi obat pencahar sebelumnya, biar lebih alamiah).

Sekali lagi, yoga prenatal memang bermanfaat (eh, pada beli dong bukunya ... ya nggak, T' Ujie? Hihihiii). Meskipun nggak menghilangkan rasa sakit (itu mah obat bius atuh), tapi ternyata otot-otot saya jadi lebih kuat, dan napas lebih panjang. Jadi bisa terus mengedan dengan penuh semangat.

Dan akhirnya, jam 23.50, Jumat malam tanggal 1 Mei, lahirlah si Lumba-Lumba (yang sampai
sekarang belum bernama, soalnya dikira masih ada kesempatan nentuin nama semingguan
lagi, hihiiii). Kelahirannya diiringi ribut-ribut suara demonstrasi karyawan Hotel Grand Aquila
yang ada tepat di seberang RS. Hermina, sekalian May Day.

Saya juga mau mengulang nasihat Ibutio kepada para pengantin baru yang akan menghadapi
malam pertama tapi dalam kondisi berbeda, bawalah handuk kecil saat melahirkan normal, hehe .... Soalnya, keringat mengucur derassss!

Dan yang terakhir, nyeri pada malam pertama tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
pengalaman melahirkan. Hahahahahaaaaaaaaaaaaaa ....


Sejak kecil sampai kuliah, saya jarang beser. Sepertinya pembuangan kotorannya tersalur lewat produksi keringat berlebih. Tapi yah, kalau sedang sekolah atau kuliah tetap saja izin ke WC, penyegaran sedikit hihihiii ....

Saya mulai sering beser sejak pengalaman pertama (dan mudah-mudahan terakhir kali) diinfus. Cairan infus rasanya membuat sekujur tubuh jadi dingin dan werrrr ... kadang-kadang nggak ketahan lagi dah, sampai-sampai bisa ngompol.

Seperti yang sudah diperingatkan oleh banyak ibu-ibu yang lebih berpengalaman dan di buku-buku, keadaan Hamdan ATT bisa membuat beser lebih sering. Apalagi kalau si orok semakin besar, karena kandung kemihnya tertekan. Kalau di rumah sih tenang saja, tapi kalau sedang di luar rumah? Makanya, saya jadi terpaksa menguasai peta per-WC-an di Bandung.

Menurut saya, WC umum yang lumayan bersih dan aman ya di mal atau pusat perbelanjaan atau restoran. Mahanagari juga sedang bikin polling di websitenya tentang WC-WC umum di mal ini hehe .... WC umum di mal ini terbagi dua, ada yang gretongan, ada yang harus bayar 1000 perak.

Yang gretongan itu di antaranya adalah WC umum di PVJ, Ciwalk, Istana Plaza, Braga Citiwalk, dan BEC, sementara di BSM, BIP (baru-baru ini), BTC, dan beberapa tempat lain adalah WC umum berbayar. Ada yang nyaman dan tidak nyaman. Menurut standar saya, WC umum yang nyaman adalah yang selalu menyediakan tisyu, sabun, wastafel, dan tempat sampah yang bersih, terus kalau WC duduk, keadaannya harus kering.

Di antara WC umum gretongan, yang paling nyaman menurut saya adalah di PVJ dan Ciwalk. Hanya, saya baru menemukan dua WC di Ciwalk (belum sempat menjelajah dengan teliti), kalau di PVJ, sekarang di tiap lantai ada, di Sogo pun ada, atau kalau mau iseng main ke Blitz, ada juga di sana (meskipun seringnya penuh kalau bubaran nonton hehe). Di PVJ, hampir selalu tersedia tisyu. Istana Plaza lumayan nyaman, tapi antrenya panjang dan nggak ada tisyu. Sementara di BEC, ya gitu deh ....

Nah, yang berbayar pun anehnya, ada yang nyaman ada yang tidak. Padahal kalau dipungut biaya, harusnya perawatannya lebih oke ya. WC mal berbayar yang paling nyaman menurut saya ada di BSM, dan kita selalu diberi tiket undian setiap kali masuk WC (dan saya selalu bertanya-tanya, betulkah ada yang benar-benar menang undiannya? Mungkin saja saya pernah menang, tapi kan jarang ke BSM karena jauh, hihihiiii). Kalau di BSM mau nyaman, masuk ke Metro saja, gretongan pula! Sekarang, BIP pun memberi tiket undian. Tapi di BIP antreannya panjang ... dan jarang ada tisyu tersedia.

Kalau di BTC, ada dua pengalaman yang berkaitan dengan WC. Pernah, sepulang yoga, di bis Antapani - KPAD, saya kebelet pipis. Aduuuuh ... tempat apa yang kelewat oleh rute bis ini, yang menyediakan WC lumayan nyaman ya? Sebelum sempat terpikir, bisnya sudah naik ke jalan layang Paspati, dan keluar-keluar di Pasteur. Ada beberapa pilihan, RSIA Hermina (WC-nya bersih), Griya, Giant, atau BTC. Tapi saya belum tahu letak WC di Griya, sementara kalau ke Giant harus nyeberang dulu, dan di Hermina nggak bisa sekalian jajan hihihiii .... Ya sudah, saya putuskan ke BTC. Eh, setelah lega, hujan turun derassssssss sekali, jadi saya terjebak di sana sampai dua jam, karena jalan banjir (tapi jadinya jalan-jalan dan jajan, hahaha).

Kali kedua, saya sengaja ke BTC, nyari baju kondangan yang cucok untuk ibu-ibu Hamdan ATT. Eh, begitu sampai ke sana, kok kebelet ya. Saya langsung ke WC di lantai dasar. Setelah jalan-jalan dan lapar, saya jajan dulu di foodcourt, lantai 3. Eh, pengen pipis lagi. Pipislah di sana. Jalan-jalannya masih berlanjut, sekarang ke toko perlengkapan bayi di lantai 2. Eh, beser lagi, sialan. Jadi saya ke WC dulu. Sudah tiga lantai yang saya pipisi, hahaha .... Karena masih belum puas, jalan-jalannya dilanjutkan dan ... sebelum pulang, karena beser lagi, saya mampir di WC lantai 1.

Meskipun nggak nemu baju kondangan (malah beli baju dan sepatu bayi lucu), saya harus mengeluarkan 4 x 1000 perak untuk beser dalam waktu hanya sekitar dua jam saja. Coba kalau jalan-jalannya lebih lama, mungkin uang yang dikeluarkan lebih besar lagi, hihihiiiii ....

Di Braga Citiwalk, pengalamannya lain lagi. Saya sempat ngompol di sana (hihiii ...), karena WC yang biasanya sepi, tumben-tumbennya antre. Untung ngompolnya sudah di dalam bilik WC, dan hanya kena CD, nggak kena celana luar. Masalahnya, kali itu saya benar-benar lupa bawa CD cadangan (biasanya selalu bawa), jadi terpaksa ... gitu deh, hihihiiii .... Lalu, pas keluar, saya bisik-bisik sama si Aq, cerita pengalaman tadi, dan kami langsung ke Carrefour untuk membeli yang baru (sambil diketawain lagi, menyebalkannn).

Selain tempat-tempat itu, saya juga langganan ke WC di Supermarket Setiabudi (bersih, kering, sepi lagi, tapi jarang ada tisyu), Giant Flamboyan, dan akhir-akhir ini berhasil menemukan letak WC di Griya Setrasari Mal (duh, leganya, hahaha). WC di Indomaret dekat rumah juga pernah dikunjungi, karena betulan kebelet pipis waktu turun angkot, untung mbak-mbak Indomaret mah baek-baek, hehehe ....

WC-WC di rumah sakit pun beragam kenyamanannya. WC umum di paviliun VIP RSHS lumayan bersih lah, meskipun nggak begitu nyaman (saya nggak berani ke WC umum di RSHS yang biasa, kebayang soalnya, hihiii). WC umum di RSIA Hermina menurut saya adalah yang paling nyaman. Di RS Advent lumayan bersih, tapi nggak ada tisyu. Di RS Kebonjati, ya gitu deh ... tapi yang paling parah adalah WC umum di RS Muhammadiyah. Waktu itu saya nengok almarhum uwak saya di sana, dan tiba-tiba pengen muntah karena migrain. Karena nggak enak kalau muntah di WC dalam (banyak sodara gitu bok), jadi saya cari WC umum di luar. Pas sampe sana, wowww ... malah jadi nggak pengen muntah, hihihiiii ... (aneh, saking joroknya, malah mendingan nggak muntah di sana, mending di plastik aja, haha).

Beda lagi ya, dengan WC di dalam kamar rumah sakit, apalagi yang kelasnya utama atau VIP. WC kelas VIP di RS Al Islam nyaman, begitu pun dengan WC di kelas VIP RS Advent. Bahkan, waktu si Papap sedang dirawat di RS Advent, saya sempat mandi di sana, dan ... serasa mandi di Bali, hahaha .... Soalnya, jendelanya menghadap Jalan CIhampelas (tapi karena di lantai 4, jadi yang tampak hanya rimbunnya pepohonan), kaca jendelanya blur, dan kalau dibuka bagian atasnya, nggak bakal ada yang bisa ngintip hihihiiiii .... Airnya panas lagi.

Bagaimana dengan WC-WC di kampus? Kalau di Unpar (terakhir kali saya ke Unpar pertengahan '97, sebelum kabur tanpa izin dari situ), WC-nya sejak dulu lumayan. Tapi kalo di WC Fisip, kacanya nyaris selalu penuh oleh cewek-cewek yang ngaca, hihihiiii .... Saya pernah ke WC UPI, di bangunan lama, ya gitu deh. Khas WC sekolah. Di Itenas juga gitu (waktu sering jemput si Aq awal-awal pacaran hehe), lagian di Geodesi banyakan cowok, jadi WC-nya seadanya.

Sementara, kalau di ITB, menurut saya WC paling enak adalah WC Astronomi doooong, meskipun klosetnya jongkok. Bisa mandi air anget kalau pagi-pagi (pake teko heater Himastron, haha).WC Astronomi relatif bersih karena hampir selalu dikunci, kalau mau masuk ya ambil kunci dulu di palang pintu. Tapi yang repot kalau kebelet dan kuncinya masih di Pak Amas. Kalau berkasus begitu, pasti lari ke WC TI di seberang.

WC-WC lain di ITB ya begitu deh, standar WC kampus. Sebetulnya ada WC yang nyaman dan bersih, yaitu WC dosen TI. Yah, maaf saja, sedikit nepotisme membuat saya pernah bisa masuk WC dosen TI yang selalu terkunci juga, hihihiiii ....

Begitulah peta per-WC-an di Bandung, meskipun pasti belum lengkap. Sebetulnya, penjelajahan WC ini juga merambah Jakarta lho. Sudah berapa kali saya ke Jakarta bersama Suze Antie naik travel CT Trans yang turun di Fatmawati, dan kami selalu mengunjungi WC raksasa kami di dekat situ---CITOS! Hahaha ....

Blog EntryMar 9, '09 12:09 AM
for everyone
Peristiwa ini terjadi di acara pernikahan seorang oknum Babah yang berinisial Q dengan sang mamah yang berinisial M.
 
Sebagai anggota geng beser, seorang tante yang berinisial M (tapi kalo yang beritu dengan si Babah, kita panggil saja Mamah M, yang ini Tante M) bolak-balik ke WC yang untunglah dekat dengan pelaminan (lho kok? Hihii).
 
Nah, saat beser untuk terakhir kalinya, dari balik bilik WC-nya, Tante M mendengar percakapan seseorang via telepon … kok perasaan kenal suaranya ya. Mendesah-desah becek gitu. Tanpa sengaja, Tante M menguping.
 
“Halo? Iya Yang … bentar lagi udahan kok … iya, lima belas menit lagi mau cari taksi. Ini di WC, lagi ganti baju … tadi kan pake kebaya. Iya Yang … Yang … Yang ….” Lalu desahan becek itu diikuti dengan nyanyian mengikuti vokalis band kawinan.
 
Tante M terkesiap, antara ingin batuk dan ingin tertawa (soalnya Tante M memang radang tenggorokan). Tapi rasa terkejut membuatnya tersedak, dan jadilah si Tante M itu batuk-batuk heboh. Sampai muntah segala, hihihiiii ….
 
Setelah beres bersih-bersih, meskipun masih ingin batuk, Tante M keluar dari bilik WC-nya. Sambil masih terbatuk-batuk tapi ingin sekali menghina.
 
Kali ini giliran si oknum yang sejak tadi mendesah-desah becek yang terkesiap. Dia tidak menyangka TANTE M yang ada di bilik WC.
 
Jadilah Tante M keluar dari WC sambil digelendoti si oknum yang memohon-mohon “Kaaa … jangan cerita ya pliiiis … abatatsa!” Karena Tante M nggak menjawab dengan “jimhakho”, jadi ya tetap saja Tante M berniat cerita.
 
Si Tante M sendiri sampai heran, kenapa sih, selaluuuuuuuuu aja dia yang memergoki kekonyolan si oknum. Sejak dulu waktu bekerja di perusahaan yang sama. Dan anehnya si oknum nggak kapok-kapok bertindak konyol, hahahahahaaaa ….
 
Jadi Sit, siapa si Yangyang itu? Apakah kamu berubah nama jadi Icuk? Hahahahaaaa ….


(aku nggak pasang foto ah ... kejadian itu sudah cukup nista, jadi nggak usah ditambah nista hahahaha)

 

Blog EntryFeb 12, '09 5:08 AM
for everyone

Ini bayi Tante M yang kesekian belas, maap nggak ngitung tepatnya berapa, hihihii …. Yang jelas, bayi ini duluan lahir daripada si bayi aneh yang hobinya gual-geol—gutak-gitek—ugal-egol—utak-utik dan kalau diputerin lagu reggae dan lagu Koil malah diem (Sepertinya sih aneh seperti bapaknya, bukan seperti ibuknya, hahaha … mumpung bapaknya nggak multiply-an).

Buku ini berkisah tentang empat orang anak yatim piatu yang dipertemukan oleh sebuah iklan surat kabar. Sinopsis selengkapnya, baca di SINI (dasar pemalaaassshhh! Hahahaaa!).

Ilustrasi cover dan dalamnya lucu-lucu, karya Neng Dalus yang juga murtad, cuma dia sih apoteker murtad hihihiii ….

Karena harga bukunya mahal (kata Neng Natnat si penyunting karena kertasnya pake kertas baguuuusss), jadi Tante M nggak janji mau ngebuntelin buku ini ya, kecuali tiba-tiba hatinya tergerak untuk memberi buntelan secara tulus-ikhlas, nggak terpaksa .


Penerbit: Matahati

Penulis: Trenton Lee Stewart

Penerjemah: Tante M

Penyunting: Nadya A. (di buku ini nulisnya gitu kan, Nat? Hihiii)

Ilustrator cover dan isi: Ella Elviana

Harga: Rp. 84500


Blog EntryFeb 4, '09 5:50 AM
for everyone

Tadi siang, saya dikunjungi mertua. Seperti biasa, kunjungan mertua saya mirip inspeksi dadakan, nggak pernah didahului oleh telepon atau sms sebelumnya. Dan seperti biasa, setiap dikunjungi mertua, saya selalu salah tingkah. Apalagi, seringnya, saat mertua datang ke rumah, saya belum mandi, hahahahaaaaaaa ….

Sejak belum menikah, si Emak sering cerita tentang hubungan mertua-menantu. Soalnya, si Emak tinggal dengan mertuanya sekitar lima belas tahun. Soalnya Ompung Armia nggak mau ditinggal oleh si Papap.

Si Emak cukup beruntung, akibat tinggal dengan mertua, jadi warisan resep-resep masakannya turun semua. Padahal, dulu si Emak sama sekali nggak bisa masak, lebih parah dari saya. Kakak-kakak si Papap senang makan di rumah saya karena masakan si Emak sama dengan masakan Ompung. Malah kakak perempuan si Papap satu-satunya nggak bisa masak seperti si Emak. Jadi saya bilang sama si Emak, silakan wariskan resep-resep itu kepada menantu perempuannya, hahahahaaaa …. (Ah, sulit sekali ingin punya kakak perempuan—maap curhat colongan)

Namanya juga mertua-menantu serumah, pasti banyak konflik. Contohnya soal mengasuh anak. Si Abang kan korbannya. Karena dianggap mirip sekali sama Ompung Hitam—kakek—jadi Ompung Armia sangat memanjakan si Abang. Sementara si Emak kan punya pola asuh sendiri. Tapi karena dengan mertua, jadi si Emak kesulitan menolak. Bahkan sampai cucu-cucunya yang lain iri. Jangankan sepupu-sepupu, saya yang serumah dan lebih kecil saja iri. Bayangkan, ada rambutan yang sudah diiris dari bijinya, disimpan di kulkas, pas mau saya makan, Ompung Armia marah, “Jangan, itu punya Abang!” Huuuu … dasar manjak. Kelakuan begitu terus berlanjut hingga Ompung Armia meninggal, kira-kira dua puluh tahun yang lalu.

Waktu saya akan menikah, si Emak semakin sering memperingatkan—atau menasihati ya? Ah, memperingatkan saja lah hahaha—masalah mertua-menantu ini. Dan sering mengkhawatirkan saya yang pemalas ini. Sebetulnya sih, saya sudah cukup lama mengenal ibunya si Aq, ya iyalah, pacarannya berbelas-belas tahun. Tapi ya sebatas begitu, namanya juga masih pacaran, paling interaksinya cuma sebentar dan sekali-sekali.

Karena si Aq anak tunggal—kakak perempuannya meninggal enam tahun yang lalu—jadi saya menantu satu-satunya. Si Aq juga sementara ini masih menantu si Emak dan si Papap satu-satunya. Seorang oknum teman saya yang lebih sompral pernah berkata, “Ah, kamu sengaja ya nyari anak tunggal. Biar semua warisan jatuh ke tangannya, hahahahahaaaa …” (dan dia tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang, dasar gelo).

Tapi ruginya, jadi rebutan. Sementara ini saya masih tinggal di rumah Emak, meskipun kasihan juga, ibu mertua saya sendirian (sebetulnya nggak sendiri-sendiri amat sih, di paviliun ada uwaknya si Aq dan suaminya, ada anak kost di kamar depan, dan sepupunya si Aq tinggal di situ juga, meskipun pulang kerjanya selalu malam dan akhir pekan pulang ke Garut). Paling-paling akhir pekan saja kami menginap di rumah si Aq. Cuma sejak si Papap sakit, kami belum pernah lagi menginap di sana. Soalnya si Emak nggak ada teman dan masih mengajar, nanti nggak ada yang jaga si Papap. Si Abang juga hanya sekali-sekali pulang dari Jakarta.

Jadi bukannya nggak ingin punya rumah sendiri dan mandiri. Tapi ya bagaimana lagi, saya pulang malam sedikit saja, si Papap nanya-nanyaaaa melulu (kalau dulu sih dicuekin, sejak sakit jadi lebih perhatian, hahaha). Kata si Emak, apalagi nanti kalau sudah ada cucu. Pasti rebutan juga, cucu pertama dari dua-duanya sih.

Syukurlah, mertua saya baik sekali. Malah, kalau saya sedang di rumah si Aq, nggak boleh kerja. Makanan disorong-sorong ke depan hidung (hihi … nggak segitunya lah). Waktu pertama kali dilapori saya hamil pun, langsung sibuk bikin bumbu rujak, minta mangga muda ke tetangga, beli jambu, dan lain-lain (padahal menantunya malah pengen cokelat dan es krim, hahahahahaaaa).

Tapi ya meskipun baik, tetap saja ada konflik meskipun kecil. Ibu mertua saya ini termasuk “orang zaman dulu”, yang masih banyak pantangan. Beda dengan si Emak yang hajar blehhh … mau ngapain juga bebas. Apalagi sejak saya hamil. Setiap makan di rumah mertua, saya selalu diberi piring kecil—supaya wajah anaknya mungil nanti (Di rumah saya langsung menuduh si Emak, “Dulu waktu hamil Adek, Emak makannya pake coet ya? Makanya muka Adek lebar!” lalu kata si Emak, “Salahkan gen si Papap, mukanya coet semua!” Hahahaha!).

Ibu mertua saya juga sempat ingin membekali dengan peniti kecil dan gunting kecil, untuk menolak ruh jahat. Tapi, dengan gesitnya saya bilang, “Bu, Adek kan punya pisau victorinox kecil … ada guntingnya lagi.” Hihihihii …. Padahal pisau itu ya memang dibawa ke mana-mana untuk maksud lain, bisa dipake motong kue segala kalau keadaan darurat banget, hahaha …. Waktu gerhana kemarin juga, sebenarnya ibu mertua keberatan kalau saya keluar rumah. Takut ada apa-apa. Tapi ya bagaimana dong, semurtad-murtadnya, saya masih lulusan astronomi, hahaha …. Meskipun dikalahkan rasa malas untuk ikut pengamatan, menurut saya nggak masalah kalau keluar. Gerhana kan hanya fenomena alam. Nggak ada hubungannya dengan bayi yang dikandung.

Memang sulit sih, latar belakangnya juga berbeda jauh. Ompung Armia pun lempeng jaya dalam urusan begitu sih, jadi keluarga saya nggak punya pantangan macam-macam. Sementara keluarga si Aq masih percaya. Untung si Aq cuek, dan saya punya banyak sekali alasan untuk berkelit kalau nggak setuju, hahahaha ….

Sempat juga, saya dan ibu mertua berkunjung ke rumah uwaknya si Aq. Lalu, dengan bangga, uwaknya Aq itu menceritakan menantunya—yang menikahnya sehari setelah saya—yang pintar mengelola dapur. Dengan uang sekian, setiap hari bisa masak makanan yang berbeda dan cukup. Waktu si Uwak cerita dengan bangga, saya melirik ibu mertua sambil cengar-cengir. Duh, apa yang mau dibanggakan dari menantunya ini, hahaha … kasihan ya ibu mertua saya.

Tapi, ternyata terkuak juga kenapa ibu mertua nggak pernah protes karena saya malas masak. Jadi, mertuanya ibu mertua saya—neneknya si Aq—terkenal galak. Suatu hari, ibu mertua ingin menyuguhi mertuanya makan. Ibu mertua saya masak sayur sop. Sayur sop itu dibawa ke beberapa orang untuk dicicipi. Kata orang-orang yang mencicipi enak. Ibu mertua saya dengan lega menyuguhkannya kepada nenek si Aq. Ternyata … sayur sopnya diludahkan lagi, sambil mengumpat-umpat dalam bahasa Sunda, nggak enaaaaak! Saat itu, sambil menangis, ibu mertua saya berjanji, “Kalau nanti punya menantu yang nggak bisa masak, nggak bakal dihina begitu!” Eeeeh … ternyata dapat menantu seperti ini, hahaha ….

Kalau berkunjung ke rumah saya juga, selalu ada yang dikerjakan. Seperti tadi, tiba-tiba ibu mertua membersihkan kacang tanah yang sedang direndam si Emak. Padahal, saya sih melirik pun nggak, hihi …. Betul juga kekhawatiran si Emak yang takut saya malu-maluin!

Jadinya ya begitu, setiap dikunjungi mertua jadi salah tingkah. Beda kalau saya yang mengunjungi, karena mentalnya lebih siap. Dan pasti sudah mandi, hahaha …. Jadi tadi sesiangan itu, saya buru-buru mandi, menahan keinginan untuk tidur-tiduran, malas-malasan, online, dan hal-hal lain yang tidak ada gunanya tapi menyenangkan.

Terakhir, tips untuk yang belum punya mertua, seharusnya yang pertama kali dicari itu adalah mertua yang baik. Anaknya sih gampang, nanti juga bisa dijajah (hihihiii). Jadi, sering-seringlah bergaul dengan ibu-ibu, cari yang baik, baru tanya-tanya, anaknya ada yang lajang nggak. Hihihihihiiiiii …. (Cuma sayangnya, tips ini adalah teori si Abang, yang sampai sekarang belum punya mertua, hahahahhahahahaaaaaa)

Fotonya itu betulan foto ibu mertua saya, bersama si Aq yang terhidang di meja, dengan pipi tembem yang menggemaskan—kebalikan dari keadaan pipinya sekarang.

 


Sembari menunggu bayi betulan yang perkiraannya lahir pada pertengahan Mei 2009, ternyata akhir tahun 2008 ini terlahir dua bayi yang nggak jelas bapaknya siapa, hahahahaaaa ....

Yang pertama Deeper, sekuelnya Tunnels (terjemahan Mizz Antie) dari Mizan Fantasi, yang sempat menuai protes kenapa penerjemahnya beda hihihiiii (yah, kami kan seguru-seilmu dalam persompralan, jadi seharusnya nggak masalah. Sebetulnya kan hanya masalah jadwal kerjaan jadi penerjemahnya pindah). Buku ini maskulin banget. Seperti Tunnels. Gimana maskulinnya? Ah, baca aja sendiri. Hihihiii .... (dasar pemalas!)



Yang kedua Anne of Green Gables, buku klasik karya L.M. Montgomery, dari Qanita (ya Mizan-Mizan juga lah). Sebetulnya nerjemahinnya udah lumayan lama, setahun yang lalu kali. Mizz Antie yang pertama kali memperkenalkan buku ini kepada saya, dan saya langsung jatuh cincha. Waktu nerjemahin juga emosi saya ikut campur aduk, ya nangis ya ketawa, soalnya si Anne ini meskipun ngaco tapi lembut hati. Buku ini layak BANGET dikoleksi! (Dan alhamdulillah, sudah ada antrean order untuk nerjemahin Anne of Avonlea, buku keduanya, hehe)



Lalu, apakah Tante M akan berbaik hati memberi buntelan? Nanti dulu lah kalau soal ini, soalnya akhir-akhir ini Tante M males banget beli buku (buntelan dari penerbitnya cuma satu siiiih), mendingan jajan makanan hahahahaaaa ....

Blog EntryDec 4, '08 1:28 AM
for everyone

Sebetulnya, di akte kelahiran saya (dan banyak teman yang umurnya sebaya), nggak ada nama marga yang dicantumkan. Di kelas saya (kelas 2 dan 3) waktu SMA juga ada sembilan pemilik marga Batak dan hanya satu orang yang tercantum marganya, si Olip doang (Padahal ada tiga Sirait, satu Lubis, satu Barus, satu Marpaung, satu Ginting, satu Manurung, terus si Ratna apa ya, lupa dia boru apa hihihiiii).

Menurut si Papap, pada masa itu pembuat akte kelahiran melarang pencantuman marga di akte kelahiran, dengan alasan yang agak-agak SARA (ya gitu deh, males ah ceritanya hihihiiii). Jadi, karena nama di sekolah harus sesuai dengan akte kelahiran, marga-marga yang bukan satwa itu terpaksa hilang sementara.

Saat akhirnya memiliki KTP, si Emak mencantumkan marga Lubis di belakang nama saya. Karena KTP yang akhirnya dianggap lebih berlaku daripada akte kelahiran, jadilah nama dengan marga Lubis itu yang dipakai di mana-mana, mulai urusan dengan bank sampai pekerjaan. 

Jauh-jauh hari sebelum “beritu”, saya sudah bilang kepada si Aq, saya nggak akan memakai namanya. Saya akan tetap bermarga Lubis saja, tidak seperti si Emak yang akhirnya ikut memakai nama Lubis di namanya. Si Aq sih santai-santai saja, sepertinya kalau saya ganti nama juga dia mah cuek saja hihihihihiiiiii ….

Bukannya berpikiran atau memiliki harapan buruk, tapi memang ada pengalaman merepotkan yang melibatkan nama gadis dan nama suami itu. Waktu masih kuliah, adik-adik kelas saya mengadakan suatu acara astronomi yang cukup besar. Mereka mengundang pembicara seorang perempuan ilmuwan yang beken. Tapi, ternyata mereka kerepotan mengganti spanduk pada saat-saat terakhir, karena di spanduk itu tercantum nama si ibu dengan nama suami di belakang namanya. Padahal mereka baru saja bercerai. Jadi, si ibu ingin nama gadisnya saja yang dipakai. Waks, kasihan teman-teman yang harus balik lagi ke pembuat spanduk untuk menggantinya! 

Kerepotan lain juga terjadi saat uwak saya meninggal dan istrinya mengurus surat kematian. Karena nama istri uwak saya berbeda (ada yang memakai nama gadis, ada yang memakai marga Lubis) di berbagai surat, KTP, Kartu Keluarga, dan beberapa dokumen lain, jadi urusannya berbelit-belit di kelurahan dan kecamatan.

Jadi, melihat dua pengalaman yang merepotkan ini, saya semakin mantap tidak akan memakai nama suami di belakang nama saya. Yah, kalau disapa “Bu Dindin” sih ya sok wae, hihihihiii …. Yang jelas, nama saya di dokumen-dokumen resmi dan halaman-halaman copyright buku tetap ada Lubisnya. Saya juga nggak berniat menambahkan Wahidin di belakang atau di depan Lubis, seperti nenek saya yang namanya jadi Armia Lubis-Nasution (maksudnya menikah dengan marga Lubis, sementara Ompung sendiri boru Nasution). Ini sih alasannya cetek—malas, kepanjangan. 

Emmm … sebetulnya ada alasan lain sih, yang membuat saya enggan mencantumkan nama si Aq di belakang nama saya. Alasannya lebih cetek lagi, hihihiii …. Soalnya, nama kami itu nggak nyambung kalau disatukan, masa’ jadi Maria Wahidin? Apalagi kalau Masniari-nya dicantumkan, jadi Maria Masniari Wahidin. Ini teh nama Batak atau nama apa? Hahahahaaaaa ….

Karena itu, biarkan saja nanti anak-anak kami yang memakai nama Wahidin di belakang namanya, ibunya mah tetap boru Lubis, kecuali kalau ganti nama jadi Maryam—cocok kan, Maryam Wahidin?

 

*Tapi tentu saja si tante keren ini nggak mau ganti nama, karena sudah ada pemilik nama Maryam di keluarga (istrinya salah satu uwak saya) dan di Astro '97. Hihihihiiiii ....

Blog EntryNov 28, '08 10:43 AM
for everyone

Percakapan ini terjadi di sebuah TK di daerah Sarijadi, pada Jumat pagi tanggal 28 November 2008. Hanya suaranya yang terdengar, wujud pelaku percakapan tidak terlihat karena mereka ada di balik pintu.


Anak Laki-Laki (AL): “Tanamana?”

Anak Perempuan (AP): “Apa sih?”

AL: “Tanamana!?”

AP: “Ih, nggak ngerti ih.”

AL: “TANAMANAAAAAA!”

AP: “Ngomong apa sih? Nggak ngerti?”

AL (dengan kesal memperlambat perkataannya, nyaris mengeja): “TAHA NAMANA?”

AP: “Oh …”

 

*TANAMANA ternyata singkatan dari TAHA NAMANA yang ternyata berarti “Saha Namanya”, yang diucapkan oleh lidah cadel seorang anak TK bernama Zaki. “Saha” dalam bahasa Sunda berarti “siapa”.

 

**Percakapan itu membuat seorang tante keren yang mendengarkan dari balik pintu tertawa terbahak-bahak sendirian, sampai ibunya heran kenapa pagi-pagi si tante keren kok sudah agak tidak waras—padahal waras banget sebetulnya. Hihihiiii ….


***Karena nggak ada foto si oknum TANAMANA itu, jadi si tante keren pake fotonya sendiri waktu TK hihihiiii ....


Blog EntryNov 19, '08 7:34 AM
for everyone

Bayi Tante kali ini gagah perkakas. Soalnya ceritanya tentang agen CIA yang ditugaskan di Yordania dan bekerja sama dengan agen rahasia Yordania yang konon katanya (ih kaya lirik lagu Alam) hebat.

Sebetulnya Tante belum dikirimin buntelannya, tapi tadi pas jalan-jalan ke Gramedia PVJ, buku ini sudah dipajang di sebelah buku terjemahannya Mizz Antie, Kite Runner. 

Terus, Body of Lies ini filmnya juga sebentar lagi tayang, dengan pemeran utamanya Leonardo di Caprio. Trailernya sudah beredar di mana-mana tuh.

Oh iya, setiap ngomongin Leonardo di Caprio, saya selalu ingat kepada raja dangdut Raden Haji Oma Irama. Kenapa? Karena ada tatarucingan demikian: apa bedanya Leonardo di Caprio dengan Rhoma Irama? 

Kalo Leonardo di Caprio main film Titanic (yang dibaca Titanik), kalau Rhoma Irama Ti Tasik (dari Tasik gitu lhuwokh, hihihiiii).

Eh lupa, ini dari Rajut Publishing.


Blog EntryNov 17, '08 1:46 AM
for everyone

Tiga bulan terakhir ini, dua orang teman saya meninggal. Dua-duanya laki-laki dan sama-sama belum berusia kepala tiga. Yang pertama Upiet alias Maulana Yusuf, teman saya di GPA, yang kedua si Ical yang sudah saya ceritakan di SINI. Dua-duanya sakit. Umur memang nggak bisa diduga. Padahal beberapa hari sebelum mereka meninggal, saya masih bertemu dengan mereka dalam keadaan sehat (dari luarnya sih, kalau dari dalam entah juga ya. Mungkin mereka sudah merasa sakit tapi nggak menampakkannya).

 

Sewaktu saya ulang tahun ketiga puluh (hihii … jujur ah sekarang mah, kan Etty Gadis Jujur), uwak saya, abangnya si papap yang nomor dua—kami memanggilnya Papaya—meninggal pada usia tujuh puluh sembilan. Memang sakitnya sudah lama, dan sebelumnya sudah bolak-balik masuk rumah sakit.

 

Dan empat puluh hari kemudian, tadi pagi, suami uwak saya yang nomor enam—saya memanggilnya Abeh karena mereka nggak punya anak, dan sejak kecil saya sering menginap di rumah mereka—meninggal juga. Umurnya tujuh puluh tiga. Sudah sering bolak-balik rumah sakit juga, hanya yang terakhir ini ternyata parah.

 

Dua anak muda, dua orang tua, dalam tiga bulan.

 


Blog EntryNov 13, '08 12:10 AM
for everyone

Ini PR dari Neng Boit ... lunas yaaaaaaaaaaaaaaaaa

Hihihiii ....


berapa jumlah buku milikmu?

Euhhhh … sekarang satu rak gede di lantai atas udah penuh, udah ada yang dua lapis, udah ada yang ditumpuk begitu aja, di rak lantai bawah ada, di kamar mandi ada, yang dipinjem ada, nggak tau dah jumlahnya.

 

buku yang terakhir dibeli?

dua buku Kiki dan Komplotannya serta Konrad Anak Instan dari toko buku Neng Boit.

 

buku-buku yang terakhir dibaca?

masih baca Inkheart milik Mamah Kobo (tinggal beberapa halaman terakhir) disambi Harry & the Treasure of Eddie Carver, kadang-kadang nyicil Snow (hihiii … bekuuu)

 

lima buku yang sangat berarti untuk saya?

Waah … nggak cukup lima atuuuuh. Soalnya yang empatnya pasti Tamasya Panci Ajaib, Tamasya Laut, Si Bandel, dan O Mungil-nya Edith Unnerstad. Dibaca beratus-ratus kali juga masih suka, bukunya sampai ledeh. Hihiii … ledeh, bahasa wewengkon pisaaaannnn.

 

bacaan sampingan?

harian Kompas, Mangle, Nova, dan Newsweek (karena si Emak dan Papap langganan, hihihiiiiiiii)


Sekarang, siapa yang ditag ya? Berhubung kubugil & friends udah kena, mau ngetag orang-orang ini aja:

1. Ratna sang sekretaris Pak Mezak (hihiiiii)

2. Rasdan Yasmin si cowok penuh perhatian

3. Tadinya mau ngetag Teh Peni, tapi MP di kantornya lagi diblok hihiiii ...


Blog EntryNov 3, '08 10:33 AM
for everyone
Saya pertama kali bertemu dengannya waktu pembukaan penataran P4 di Sabuga, sebelas tahun lewat beberapa bulan yang lalu. Saat itu dia masih berambut a la Adi Bing Slamet, dan menambah daftar kekecewaan saya terhadap teman-teman seangkatan hahaha … (Soalnya nggak ada yang gimanaaaaa gitu. Mirip-mirip Otong Koil kek. Hihihiii).

Doski biasanya dipanggil si Ical, dan suka betek kalau namanya ditulis salah—harus Faizal Riza (karena sering ditulis Faisal). Yang agak aneh, dia dari Makassar tapi fasih berbahasa Sunda pergaulan (kasar) dengan si Yana, teman seangkatan kami yang juga dari Bandung. Setelah diusut, ternyata si Ical ini sempat sekolah di SD Banjarsari dan SMP 2 Bandung, lalu balik lagi ke Makassar.

Waktu tahun pertama kami kuliah, pergerakan mahasiswa sudah semakin ramai. Si Ical masuk PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan) ITB, bersama seorang teman seangkatan kami yang lain, Iyam. Jelas saja wawasan kebangsaannya kuat. Dan pada tahun pertama ini juga, kami (Ical-Iyam-saya-Tya) sempat jadi artis demo hahaha …. Gara-garanya sih ditugaskan oleh Mas Hasan, ketua Himastron saat itu, untuk mengisi acara musik kampus. Ya sudah, kami nekad dan sok-sokan mengisi dengan band akustikan, menyanyikan lagu-lagu ngaco karya sendiri. Waktu itu masih ada Farkhan yang main gitar juga, tapi setelah manggung pertama kali, dia kapok!

Waktu itu kami lumayan laku, tapi ya laku di kalangan kampus hehe …. Setiap ada acara musik kampus, kami sering diundang. Sempat juga main di Radio Ganesha dan Radio Chevy (dan direkam di Radio Ganesha), karena saat itu dua radio itu tergolong radio “pemberani” yang sering bikin talk show “penggulingan” orde baru. Prestasi terbesar kami adalah main sepanggung dengan El Pamas (hahaha … masih ingat, grogi banget pas liat Totok Tewel) di acara malam alumni di Jakarta, dan pada malam itu juga Tragedi Trisakti terjadi (dan kami dipulangkan dengan panik oleh panitia, dengan taksi 4848, karena khawatir acaranya diintai oleh intel).

Hasil karya band akustikan kacau ini masih bisa terdengar sampai sekarang. Soalnya, Hymne KM-ITB karya si Ical dan Iyam. Dulu judulnya Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, sama dengan motto KM-ITB. Sewaktu motto KM-ITB berubah, judulnya juga ikut berubah, jadi Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Tapi saya sering sebal karena orang-orang biasanya lupa bertanya-tanya, siapa sih yang membuat lagu kampus. Seperti lagu Mentari yang diaku-aku lagu kampus (tanpa disebutkan karya Abah Iwan Abdurrachman).

Setelah pergolakan politik mereda, si Ical masih aktif di PSIK. Tapi saat itu juga, kami “terpaksa pulang” ke Himastron, karena Himastron membutuhkan kami (hahaha … GR amat. Tapi memang benar, karena semua anggota pasti sempat ngerasain jadi pengurus, saking sedikitnya!). Si Ical yang sial, harus jadi tumbal angkatan, jadi ketua Himastron. Saat masa kepengurusannya, saya jadi danus kejam yang hobi membubuhkan stempel GOBLOG—bukan LUNAS—di buku utang Himastron (karena para penghuni Himastron saat itu saingan gede-gedean berutang dengan bangga, huh!).

Dengan komposisi tujuh cewek dan enam cowok dari tiga belas orang seangkatan (dan dua cowok rontok duluan di awal, lalu diikuti satu lagi), sungguh mengibakan nasibnya, karena cewek-ceweknya dominan, tukang ledek, dan hobi menjajah. Apalagi si Ical ini emosional dan keras. Tapi kasihan, seringkali dia tak berdaya menghadapi cewek-cewek penjajah, hihiii …. Lagipula, karena dia berambut panjang dan lembut serta berkulit putih mulus, kami sering menjuluki dia Betty (cowok-cowok lain juga dapat julukan).

Di luaran, citranya si Ical ini jantan, garang, gagah. Apalagi pernah jadi korlap demo. Tapi buat kami, dia adalah cowok manis yang lebih cantik daripada kami-kami, hihihiii …. Jadi kalau ada anak-anak jurusan lain yang memuji “Si Ical jantan ya …” kami sering membantah, “Ical? Jantan? Gagah? Halah … dia mah cantik!” (dan seringkali diprotes, karena menurunkan pasaran hahaha.) Yang lebih parah, dia seringkali kami lecehkan—misalnya dia sedang berjongkok sambil merokok di luar kelas, tiba-tiba si Lia berjongkok di sebelahnya dan tersenyum manissss sekali (yah, senyum manisnya Lia, hahaha!), dan tiba-tiba pura-pura mau mencolek dagunya. Atau saat kami iseng beli “minuman anu” untuk mabuk-mabukan di belakang Himastron, kami membelikannya sebotol Kiranti, hahahahahaaa …. Kasihan ya. Waktu giginya ompong pun, saya sempat meledeknya. Soalnya, giginya itu potong karena dia makan jagung, hahaha … saya ledek-ledekin, huh, nggak heroik, kirain berantem dengan siapaaaa gitu.

Saya pernah tanpa sengaja menginap di kamar kostnya di Sangkuriang. Oh, tentu saja setelah dengan sukses mengusirnya supaya tidur di kamar kost penghuni Sangkuriang lainnya (waktu itu ada lima anak astronomi yang ngendon di situ). Waktu itu kami sedang ada lanjutan pembicaraan materi ospek, lalu saya kemalaman dan malas berjalan kaki ke kampus (karena nggak ada angkot kalau sudah malam). Kamarnya rapi. Lebih rapi daripada kamar saya. Kamar mandinya bersih. Dan … peralatan mandinya berjajar lebih banyak daripada peralatan mandi saya. Wow.

Selama berteman—mungkin sudah bukan berteman lagi, tapi bersaudara, sebagai satu disfunctional family yang kacrut, dan sudah merasa muhrim—tentu saja kami sering berantem. Yang sering jadi masalah adalah sifat si Ical yang keras. Darahnya panas. Sampai pernah ada tragedi tangis-tangisan multiangkatan di Himastron pada suatu HUT Himastron. Sampai saya sempat mendiamkannya selama nyaris sebulan karena suatu hari dia meledak di Himastron. Tapi itu akibat saking dekatnya kami. Mirip berantem dengan saudara sendiri.

Si Ical termasuk yang terancam DO pada tahap Sarjana Muda, tapi untungnya dia berkasus di mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor, lebih mudah daripada kasus Mekanika Lanjut kami. Dulu Tugas Akhirnya tentang Kosmologi, dan sampai beberapa saat yang lalu dia masih berminat terhadap Kosmologi (dia sempat bilang ingin S2, tapi ngumpulin duit dulu). Selama TA dia sering kami jodoh-jodohkan dengan si Ina, partner TA-nya yang juga seangkatan (dan seringkali keduanya ngambek, hahahaaa).

Setelah lulus, dia sempat menghilang beberapa saat dari pergaulan kami karena bekerja di Jakarta, jadi asisten editor di perusahaannya Raam Punjabi (dan selalu kami ledek, “Dasar perusak moral generasi muda bangsa!” Hahahaaa). Akhirnya dia nggak tahan—mungkin nggak sesuai juga dengan idealismenya—dan kalau nggak salah, sekitar peristiwa tsunami Aceh, dia keluar. Sempat jadi relawan Aceh dan bikin film dokumenter di sana. Dia memang berjiwa sosial, apalagi dia anggota KSR – PMI.

Sepulang dari Aceh, dia kerja di IMTV Bandung. Mulailah dia sering bergaul lagi dengan kami. Apalagi si Ketut juga sudah mulai muncul, setelah puas bertapa di Jatinangor. Semakin lama berteman, ternyata pelecehan kami semakin menjadi-jadi, hahaha …. Saya masih ingat, suatu hari kami kumpul angkatan di Perpustakaan Pusat. Si Ical belum datang-datang. Si Ketut yang kebagian nelepon. Lalu, pas akan menyudahi pembicaraan, kami cewek-cewek ini berseru-seru, “Bilang love you, Tut!” Si Ketut yang memang sama sintingnya menurut, dengan mesra bilang, “Love you ….” Dan kami mendengar seruan “ANJEEEEENG!” dari si Ical, hahahahaaaaaaaa! (Setelahnya kami marah-marahin, karena dia membalas sikap si Ketut yang penuh cinta dengan umpatan, dasar!)

Dia juga yang sering saya ganggu kalau sedang online tengah malam. Kalau id-nya, pcl_astro, tampak kuning, biasanya saya sapa “Hai, Say … Saython …” (Seperti biasa, umpatan-umpatan seperti “ajig” dan “gobod” selalu mewarnai percakapan kami. Seringnya sih dari dia hihiii … tapi buat kami, itu bukan umpatan kasar, itu ekspresi pertemanan akrab saja. Saat online malam-malam ini juga, dia beberapa kali curanmor soal cinta (Sebetulnya bukan dia yang sukarela curanmor sih, saya saja yang hobi mengorek-ngoreknya dengan pertanyaan mendetail. Dan dia selalu menjawab dengan jujur, hihii). Sempat juga saya ancam karena ada tanda-tanda dia mau melangkahi saya menikah duluan, tapi ternyata nggak jadi hahaha …. Sayang waktu saya “beritu” dia nggak datang karena harus pulang ke Makassar. Dan saya ledek-ledekin, “Kenapa sih nggak datang? Patah hati ya? Aaaah … ngaku, pasti patah hati yaaa!” (dan seperti biasa, dia membantah sambil mengumpat-umpat, hahaha ….)

Kami bertemu terakhir kali waktu Lebaran kemarin, hari ketiga, waktu dia beserta Vivi dan Dyno “ngalap berkah” ke rumah saya. Yah, biasa, si Emak yang menyayangi anak-anak kost seringkali open house untuk anak-anak kost yang nggak mudik saat Lebaran (sejak dulu, mulai dari teman-teman si Abang sampai teman-teman saya). Waktu itu lama juga mereka di rumah, bayangkan, dari makan siang sampai makan malam! (Si Emak sih senang, karena ada yang menghabiskan kakaren Lebaran. Soalnya kami sudah bosan, ketupat-opor-rendang melulu, hihiii) Saat itu masih saja saya ledek-ledek. Tapi beberapa tahun terakhir ini, kalau menurut saya sih, sifat emosionalnya sudah berkurang. Kalau soal dia mengumpat-umpat, itu sih karena ledek-ledekan (dan biasanya mengumpat sambil ketawa, kalau dulu bisa marah betulan—tapi semakin dia marah, kami biasanya semakin senang mengganggunya hihiii).

Sekitar dua minggu lalu, saya sempat mengobrol dengannya di telepon. Waktu itu saya sedang di BSM, dan nemu miniatur planetarium yang sudah lama Vivi cari. Saya sms Vivi, ternyata dia menelepon dengan HP si Ical. Waktu itu si Ical sempat ngajak saya jadi panitia Kongres Ikatan Alumni Astronomi, tapi saya bilang nanti dulu, lagi jadi ibu hamil nih (alasan, padahal males, hihiii). Nggak disangka, ternyata itu pembicaraan terakhir dengannya. Dan masih saya ledek-ledek juga, “Adeeeuh … kencannya ganti, bukan sama Ina lagi, sekarang sama Vivi!” (Si Vivi juga ikutan ngeledek, “Iya nih, ini kami lagi kencan!” dan seperti biasa dia ngomel-ngomel.)

Jumat minggu lalu, saya mendapat sms dari si Coni (yang Sawung), kabarnya Ical masuk RSHS. Waktu itu pikiran saya, si Ical paling-paling sakit DB atau tipp-ex, langganan (dasar anak kost, makannya nggak bener dan hobinya minum kopi banyak-banyak). Saya, Vivi, dan beberapa teman lain sudah berencana menengoknya Sabtu sore, eh, ternyata Sabtu pagi si Coni sms lagi, Ical sudah dibawa ke Makassar.

Yang sempat merasa ada sesuatu itu si Ketut, karena dia sms ke hp Ical, tapi yang bales kakaknya. Ketut sempat sms saya, “Mar, si Ical parah nggak ya? Kok nggak bisa pegang hp?” Lalu saya jawab (sambil bercanda dan menenangkan si Ketut—sebetulnya, lebih menenangkan diri sendiri juga sih), “Mungkin dia operasi kelamin, penghilangan jakun, dan pembesaran payudara Tut, jadi masih belum bisa pegang hp.” Lalu kami masih smsan bercanda gitu.

Eh, tiba-tiba, Jumat pagi kemarin, tiga sms berturut-turut masuk ke hp saya. Dari si Coni, dari si Bona, dan satu lagi dari siapa ya, lupa. Kabarnya, si Ical meninggal pukul 09.30 WITA. Saya langsung nangis dan ngadu sama si Aq, “Adek ngeledekin si Ical melulu, Q ….”

Seharian itu rasanya kelabu. Si Emak juga sedih. Tiap melihat gitar yang ada di rumah juga sedih, karena itu “gitarnya Ical” (yang dulu suka dipakai saat manggung). Sampai sekarang juga, dia masih terbayang-bayang. Sayang sekali saya nggak bisa langsung ke Makassar, tapi saya bertekad, suatu saat saya akan berziarah di makamnya. Dan mudah-mudahan, lagu-lagu rekaman karyanya berhasil dilacak (karena beberapa waktu lalu kami sudah berniat mencarinya, mudah-mudahan masih ada, karena Radio Ganesha sudah pindah).

Itulah si Ical. Bukan teman lagi, dia mah saudara, muhrim. Mudah-mudahan dia damai di sana.

Foto Terakhir Bareng Ical, Bubar Astro '97 di Warung Pasta
(Ical - Lia - Vivi - Ketut - saya)



Pages:123456789